JAKARTA — Momentum Hari Tani Nasional pada 24 September diharapkan menjadi ruang menyampaikan aspirasi sekaligus memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan petani. Masyarakat dan peserta unjuk rasa (unras) diimbau menjaga ketertiban serta tidak terpengaruh provokasi yang berpotensi mengubah penyampaian aspirasi damai menjadi tindakan anarkis.
Analis Politik dan Isu Intelijen Boni Hargens menilai masyarakat tidak perlu larut dalam kecemasan menghadapi berbagai wacana mobilisasi massa pada September. Menurutnya, aparat keamanan memiliki pengalaman dalam menangani dinamika aksi sekaligus menjaga stabilitas.
“Percayalah, Polri, BIN, dan TNI memiliki kapabilitas dan pengalaman yang terbukti dalam menjaga keamanan nasional,” kata Boni di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Boni juga mengingatkan bahwa ketakutan berlebihan justru dapat memperbesar dampak narasi yang berkembang. Karena itu, stabilitas menurutnya membutuhkan peran bersama aparat dan masyarakat dengan tetap menjaga ketenangan serta persatuan.
Pendekatan humanis sebelumnya juga diterapkan saat ratusan petani tebu menyampaikan aspirasi di kawasan Monas. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung menegaskan kepolisian menghormati kebebasan masyarakat menyampaikan pendapat sembari memastikan kegiatan berjalan tertib.
“Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat,” kata Reynold. Pengamanan dilakukan dengan mengedepankan pendekatan humanis agar aspirasi petani dapat tersampaikan dalam situasi aman dan damai.
Momentum Hari Tani tahun ini juga berlangsung di tengah sejumlah indikator dan program pemerintah di sektor pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 129,19 pada Agustus 2026. Pemerintah juga mengalokasikan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk 100 ribu hektare lahan sebagai perlindungan terhadap risiko kekeringan, banjir, dan organisme pengganggu tanaman.
“Kalau petani sejahtera, produksi akan meningkat, masyarakat juga mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” ujar Amran.
Dengan demikian, penyampaian aspirasi terkait persoalan pertanian tetap dapat dilakukan secara terbuka dan damai. Menjaga unras dari provokasi maupun tindakan kekerasan penting agar substansi tuntutan petani tetap menjadi perhatian utama tanpa mengganggu keamanan masyarakat.


