Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan perekonomian di tingkat desa. Kedua program tersebut dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045.
Tenaga Ahli Bakom RI Hariqo Satria mengatakan MBG dan KDMP tidak hanya perlu dilihat dari manfaat saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari investasi untuk masa depan Indonesia. Menurutnya, berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat perlu diarahkan untuk memberikan manfaat jangka panjang.
“Program MBG tidak bisa semata-mata dilihat sebagai pengeluaran, tetapi ini adalah investasi kita untuk 20 tahun yang akan datang. Untuk tahun 2045, untuk Generasi Emas tahun 2045,” ujar Hariqo.
Hariqo mengatakan pelaksanaan MBG setelah 80 tahun Indonesia merdeka menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan kualitas generasi mendatang. Program tersebut juga terus dikembangkan melalui keterlibatan masyarakat, orang tua, guru, pakar, dan berbagai organisasi.
Ia menyebut lebih dari 26 ribu dapur MBG tidak pernah mengalami kasus keracunan. Menurutnya, kondisi tersebut didukung penerapan SOP secara disiplin serta masukan dan pengawasan dari berbagai pihak. Pelaksanaan MBG juga memberikan manfaat ekonomi dengan mengurangi pengeluaran orang tua serta meningkatkan pendapatan petani, peternak, pekebun, nelayan, dan UMKM.
Keterlibatan UMKM juga menjadi bagian dari dampak ekonomi MBG. Hariqo menyebut lebih dari 80 persen dapur MBG telah memiliki sedikitnya satu UMKM di sekitar lokasi. Rata-rata setiap dapur tersebut menggandeng sekitar tiga UMKM.
Penguatan tata kelola turut dilakukan melalui pemanfaatan teknologi. Hariqo menyebut adanya Kurir MBG, aplikasi Kurir MBG, dan Radar MBG yang dapat digunakan untuk mengecek menu serta kesesuaiannya dengan angka kecukupan gizi.
Sementara itu, KDMP dinilai dapat memperpendek rantai pasok dengan membeli langsung hasil produksi petani. Hariqo mencontohkan Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari yang mencatat omzet Rp300 juta dalam enam bulan. Koperasi Desa Merah Putih Wonokerto di Sukorejo, Pasuruan, juga disebut meningkatkan omzet dari modal awal Rp2 juta menjadi rata-rata Rp260 juta per bulan.
“Jadi rantai pasoknya itu yang dipotong. Dengan dukungan kita bersama, kita mampu. Kesuksesan-kesuksesan ini harus dipelajari juga oleh tempat-tempat lain,” kata Hariqo.
Menurut Hariqo, berbagai capaian tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi koperasi di daerah lain dengan tetap menyesuaikan karakter dan potensi wilayah masing-masing. Sinergi antara kementerian, lembaga, badan, pelaku usaha, dan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat MBG dan KDMP.
