*) Oleh : Satria Setiawan
Nilai tukar rupiah memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sebagai alat transaksi utama dalam kegiatan ekonomi, kekuatan rupiah tidak hanya memengaruhi perdagangan dan investasi, tetapi juga berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat. Dalam situasi ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perlambatan ekonomi sejumlah negara besar, serta fluktuasi pasar keuangan internasional, penguatan rupiah menjadi salah satu prioritas yang terus dijaga pemerintah dan otoritas moneter. Oleh karena itu, berbagai langkah intervensi yang dilakukan secara terukur menjadi instrumen penting untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga dan memberikan rasa percaya diri bagi pelaku usaha maupun masyarakat.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menjelaskan intervensi terukur dalam menjaga nilai tukar rupiah bukanlah upaya untuk mengendalikan pasar secara berlebihan, melainkan langkah strategis untuk meredam gejolak yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi. Ketika terjadi tekanan eksternal yang menyebabkan arus modal keluar atau meningkatnya permintaan terhadap mata uang asing, pemerintah dan Bank Indonesia dapat mengambil langkah-langkah tertentu untuk menjaga keseimbangan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi nasional sehingga kebijakan yang diterapkan tetap efektif dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi sektor lainnya. Dengan kata lain, intervensi dilakukan secara hati-hati, proporsional, dan sesuai kebutuhan.
Salah satu faktor yang mendukung efektivitas intervensi tersebut adalah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta konsumsi domestik yang stabil menjadi modal penting dalam mempertahankan kepercayaan pasar terhadap rupiah. Ketika investor melihat bahwa kondisi ekonomi nasional berada dalam jalur yang sehat, tekanan terhadap nilai tukar dapat diminimalkan. Oleh sebab itu, intervensi yang dilakukan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
Sementara itt, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan selain menjaga stabilitas pasar keuangan, penguatan rupiah juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Ketika nilai tukar lebih stabil, biaya impor bahan baku industri dapat ditekan sehingga harga barang produksi dalam negeri menjadi lebih terkendali. Stabilitas nilai tukar juga membantu mengurangi tekanan inflasi yang sering muncul akibat kenaikan harga barang impor. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat melalui harga kebutuhan sehari-hari yang lebih stabil. Dengan demikian, kebijakan menjaga rupiah sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan sektor keuangan, tetapi juga berhubungan erat dengan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Di sektor industri, rupiah yang kuat memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menyusun perencanaan bisnis. Banyak sektor manufaktur nasional masih menggunakan bahan baku atau komponen impor sehingga fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi biaya produksi. Ketika rupiah mengalami pelemahan yang tajam, biaya produksi meningkat dan pada akhirnya dapat mengurangi daya saing industri. Sebaliknya, stabilitas rupiah memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan menjaga kestabilan nilai tukar juga menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan sektor riil.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai lembaga terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar global yang berubah dengan cepat. Langkah-langkah seperti menjaga disiplin anggaran, meningkatkan penerimaan negara, memperkuat ekspor, serta mendorong investasi produktif dilakukan secara bersamaan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Ketika koordinasi tersebut berjalan dengan baik, kepercayaan investor terhadap Indonesia akan semakin meningkat dan memberikan dukungan tambahan bagi penguatan rupiah.
Di sisi lain, upaya memperkuat penggunaan rupiah dalam transaksi domestik dan internasional juga terus dikembangkan. Pemanfaatan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral dengan negara mitra menjadi salah satu strategi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing tertentu. Kebijakan ini tidak hanya membantu menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam sistem keuangan regional. Semakin luas penggunaan rupiah dalam berbagai transaksi, semakin besar pula ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak eksternal yang berasal dari perubahan kondisi pasar global.
Pada akhirnya, intervensi terukur untuk menguatkan rupiah merupakan bagian dari strategi besar dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional. Langkah tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk mempertahankan angka nilai tukar tertentu, melainkan untuk menciptakan iklim ekonomi yang sehat, kondusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat, koordinasi kebijakan yang solid, serta kepercayaan pasar yang terus meningkat, rupiah memiliki peluang untuk semakin kokoh menghadapi berbagai tantangan global. Stabilitas rupiah yang terjaga pada akhirnya akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
)* Penulis adalah Kontributor Angkasa Media Satu


